EFEKTIFITAS
KUNYIT (Curcuma domestica
Val) SEBAGAI PENGAWET DAGING DAN TAHU
Oleh:
Mashfufatul
Ilma
1112016200027
Daging
dan tahu merupakan produk pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia,
karena kedua produk pangan ini merupakan makanan lima sehat enam sempurna,
selain itu daging dan tahu banyak mengandung protein. Selain karbohidrat, lemak
dan air protein merupakan zat yang tidak kalah penting bagi tubuh. Menurut
Marks dan Smith (1996), protein memiliki fungsi yang bermacam-macam, protein dapat
memindahkan berbagai senyawa melalui aliran darah dan melintasi membran,
merupakan komponen yang memungkinkan otot berkontraksi, sehingga dapat terjadi
gerakan, protein juga berfungsi sebagai enzim yang dapat menjadi katalis bagi
reaksi kimia yang terjadi dalam tubuh. Oleh karena itu tubuh membutuhkan asupan
protein yang cukup sehingga proses metabolisme tubuh berjalan dengan baik.
Daging
merupakan otot ternak yang telah disembelih untuk tujuan konsumsi, dapat
berasal dari berbagai jenis ternak, seperti sapi, kerbau, kambing, unggas,
hewan air dan lain-lain. Daging merupakan satu makanan yang memiliki kandungan
nutrisi yang sangat tinggi. Manusia banyak membutuhkan nutrisi yang ada dalam
daging (Kristiani: 2005). Allah berfirman “dan sesungguhnya pada binatang
ternak, nemar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu. Kami (allah)
memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada
binatang-binatang ternka itu terdapat manfaat yang banyak untuk kamu, dan
sebagian darinya kamu makan” (al-Mu’minun:21) (Jazuli:2006).
Daging
memiliki kandungan gizi yang tinggi, lengkap, dan seimbang. Namun, kandungan
gizi yang tinggi pada daging merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroba,
sehingga daging merupakan salah satu bahan pangan yang mudah rusak atau perishable.
Kerusakan pada daging dapat disebabkan karena adanya benturan fisik, perubahan
kimia, dan aktivitas mikroba. Akibat dari kerusakan tersebut seperti
pembentukan lendir, perubahan warna, perubahan bau, perubahan rasa dan terjadi
ketengikan yang disebabkan pemecahan atau oksidasi lemak daging. Salah satu
proses pengawetan dengan pemakaian antibakteri dengan tujuan mempertahankan
kualitas maupun kuantitas daging (Afrianti,dkk:2013)
Tahu
adalah makanan yang dibuat dari kacang kedelai yang difermentasikan dan diambil
sarinya (Wijaya : 2012), selain daging yang
merupakan protein hewani, protein juga
dapat ditemukan dalam tumbuhan atau yang sering disebut dengan protein nabati,
salah satunya adalah tahu. Tahu merupakan produk pangan dari hasil penggumpalan
protein kedelai. Tahu biasa diproduksi dalam jumlah banyak akan tetapi dalam
proses penjualan tidak dapat sekali habis dalam sekali prosuksi, oleh karena
itu selain dari pemekatan protein kedelai, produksi tahu disertai dengan bahan-bahan
tambahan yang diijinkan atau tidak, untuk menghindari kerugian dari kerusakan
tahu.
Kandungan
air dalam tahu sangat tinggi, besarnya kadar air dipengaruhi oleh bahan
penggumpal yang dipakai pada saat pembuatan tahu. Bahan penggumpal asam
menghasilkan tahu dengan kadar air lebih tinggi dibanding garam kalsium. Bila
dibandingkan dengan kandungan airnya, jumlah protein tahu tidak terlalu tinggi,
hal ini disebabkan oleh kadar airnya yang sangat tinggi. Makanan-makanan yang
berkadar air tinggi umumnya kandungan protein agak rendah. Selain air, protein
juga merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme pembusuk yang
menyebabkan bahan mempunyai daya awet rendah (Perangin:2013).
A. Rempah-Rempah Sebagai Pengawet Produk Pangan
Usaha
pengawetan makanan sudah dilakukan sejak dahulu, yang dimulai dengan cara
pengasapan atau pengeringan. Disatiap negara, cara pengawetan makan tidak sama
karena terjadi perkembangan teknologi yang menyebabkan perubahan taraf
kehidupan penduduk disuatu negara. Perkembangan teknologi pada pengawetan
makanan bergantung pada faktor cara kebiasaan makan dan daya beli produk (candra,
101: 2005). Daging dan tahu adalah makanan yang mudah sekali rusak oleh karena
itu banyak usaha yang dilakukan untuk mengawetkan kedua produk pangan ini, pada
zaman pengawet makanan berasal dari bahan-bahan alami, manfaat dari penggunaan
pengawet alami adalah tidak memberikan efek yang berbahaya bagi tubuh, pada
saat ini pengawetan makanan dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan yang
diracik dari berbagai macam senyawa kimia yang dapat membahayakan tubuh.
Pengawet
merupakan salah satu bahan yang ditambahkan pada produk pangan. Bahan tambahan pangan sangat berpengaruh terhadap
kualitas suatu makanan, namun pemasaran dan penggunaannya memerlukan
pengawasan. Pemerintah yang berkompeten dalam hal ini karena berkaitan dengan
keamanan makanan. Ada berbagai jenis bahan tambahan makanan yang dilarang
pnggunaannya, sebagaimana diatur oleh Peraturan Menteri Keehatan Republik
Indonesia Nomor 722/MenKes/Per/IX/1988 tanggal 22 September 1998 dan Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 1168/MenKes/PER/X/1999 (Saparinto dan Diana, 67: 2006).
Pengawetan
makanan dapat dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan alami dan buatan.
Pengawet buatan yang sering digunakan
oleh masyarakat adalah formalin dan boraks, yang penggunaannya sangat
membahayakan kesehatan. Menurut Puspitojati (2013), Formalin merupakan bahan
kimia yang biasa dipakai untuk membasmi bakteri atau berfungsi sebagai
disinfektan. Zat ini termasuk dalam golongan kelompok desinfektan kuat, dapat
membasmi berbagai jenis bakteri pembusuk, penyakit, cendawan atau kapang, disamping
itu, juga dapat mengeraskan jaringan tubuh.
Bahan
pengawet alami memiliki banyak manfaat, selain dapat mengawetkan suatu produk
pangan, bahan pengawet alami memberikan banyak manfaat karena bahan yang
digunkan pada dasarnya memiliki khasiat tersendiri bagi tubuh, seperti
rempah-rempah. Rempah-rempah banyak digunakan sebagai pengawet, pemberi warna
dan penguat rasa pada makanan, selain bermanfaat dalam produk pangan
rempah-rempah sendiri mengandung senyawa yang dapat mencegah kanker, memanbah
nambah nafsu makan, dan mengobati beberapa jenis penyakit. Jamu-jamu
tradisional yang dipercaya menyembuhkan beberapa penyakit juga terbuat dari
rempah-rempah seperti kunyit, jahe, temulawak dan sebagainya, oleh karena itu
dalam pengawetan makanan menggunakan rempah-rempah sangat banyak manfaatnya.
Rempah-rempah
tertentu mempunyai aktivitas menghambat pertumbuhan mikroba, baik
kapang, khamir, maupun bakteri. Aktivitas antimikroba ini diduga karena
adanya senyawa kimia pada rempah-rempah yang bersifat racun terhadap
mikroba tertentu. Senyawa antimikroba ini sering ditambahkan ke dalam
makanan untuk mencegah pertumbuhan mikroba pembusuk dan perusak. Bahan tambahan
yang umum digunakan adalah asam organik dan garamnya. Penambahan senyawa antimikroba
dapat menghambat pertumbuhan mikroba yang disebabkan oleh :
1.
Rusaknya dinding
sel sehingga terjadi lisis atau terhambatnya pembentukan dinding sel pada sel
yang tumbuh.
2.
berubahnya
permeabilitas membran sitoplasma yang mengakibatkan kebocoran nutrien dari
dalam sel.
3.
Denaturasi
protein.
4.
Terhambatnya
kerja enzim di dalam sel (Mustafa : 2006)
B. Kunyit (Curcuma domestica Val)
Kunyit
berwarna kuning atau jingga pada bagian dalamnya dan berwarna kecoklatan serta
bersisik pada bagian luarnya serta mempunyai tekstur yang keras tetapi rapuh.
kunyit (Curcuma longa L) adalah tanaman dengan rimpang yang dapat
dimakan, termasuk dalam famili Zingeberaceae. Kunyit biasanya digunakan untuk
bahan memasak ataupun untuk bahan pengobatan.
a.
Kekerabatan
Kunyit
Dalam
taksonomi tumbuhan kunyit dikelompokkan sebagai berikut:
Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Divisi
(Divisio) : Spermatophyta
(tumbuhan berbiji)
(sub
divisio) : Angiospermae
(berbiji tertutup)
Kelas
(class) : Monocotyledone (biji
berkeping satu)
Marga
(genus) :
Curma
Jenis
(species) : Curcuma domestica Val
Tanaman
yang termasuk suku temu-temuan terdiri dari 45 genus dan lebih kurang ada 500
spesies. Beberapa tanaman temu-temuan yang berkerabat dengan kunyit dan dikenal
masyarakat antara lain, temulawak, jahe, dan kencur. Ketiga jenis tanaman ini
belum secara optimal dimanfaatkan sebagai bahan baku obat-obatan dan pengawet
makanan (said: 2007).
b.
Kandungan
Senyawa Kimia
Komponen
kimia yang terdapat dalam rimpang kunyit di antaranya minyak atsiri, pati, sat
pahit, resim, selulosa, dan berbagai mineral. Komponen zat warna atau pigmen
pada kunyit yang utama adalah kurkumin, yakni sebanyak 5%, selain itu kunyit
juga mengandung zat warna lain seperti monodesmetoksikurkumin dan
biodesmetoksikurkumin.
Gambar
struktur kurkumin (Setyowati: 2013)
Curcumin
larut dalam etanol, propilen likol dan asam asetat, serta tidak larut dalam air
dan eter. Curcumin menunjukkan warna kuning pada pH asam sampai normal, dan
menunjukkan coklat kemerah-merahan pada pH basa (kristiani:2005). Kandungan
lain yang terdapat pada kunyit per 100 gram bahan yang dapat dimakan
No
|
Nama
Komponen
|
Komposisi
|
1
|
Air
|
11,4
g
|
2
|
Kalori
|
1480
kal
|
3
|
Karbohidrat
|
64,8
g
|
4
|
Protein
|
7,8
g
|
5
|
Lemak
|
9,9
g
|
6
|
Serat
|
6,7
g
|
7
|
Abu
|
6,0
g
|
8
|
Kalsium
|
0,182
g
|
9
|
Fosfor
|
0,268
g
|
10
|
Besi
|
41
g
|
11
|
Vitamin
A
|
-
|
12
|
Vitamin
V
|
5
mg
|
13
|
Vitamin
C
|
26
mg
|
14
|
Minyak
atsiri
|
3%
|
15
|
Kurkumin
|
3%
|
Tabel
(Said: 2007).
C. Efektifitas Kunyit Sebagai Pengawet Tahu
Kunyit
dapat digunakan sebagai pengawet tahu, disamping berfungsi sebagai warna juga
sebagai antibiotik, sekaligus mencegah agar tidak cepat asam. Selain itu untuk
keseghatan berfungnsi sebagai antioksidan, antibakteri, antiradang dan anti
kanker. Kunyit basah mengandung kurkuminiod mencapai 40-50%. Untuk penggunaan
kunyit disarankan ditumbuk, digiling, dan diperas airnya (Kristianingrum: 2006)
Tahu
sering dijumpai dalam berbagai warna, ada yang kuning dan aja juga yang putih.
Tahu dengan warna kuning sudah jelas ditambah dengan pewarna baik pearna alami
atau buatan. Warna kuning pada tahu bisa didapatkan dengan menambahkan kunyit
sebagai pewarna alami pada tahu. Kunyit selain dapat memberi efek kuning pada
tahu, kunyit mampu menambah daya tahan tahu, kandungan kurkumin pada tahu dapat
menghambat pertumbuhan mikroorganisme, sehingga tahu akan bertahan lebih lama. Cara
kerja kunyit sebagai bahan pengawet sangat ditentukan dari senyawa kurkumin
yang bekerja secara efektif dalam menghambat degadasi melalui proses pemecahan
protein menjadi molekul-molekul sederhana (seperti asam amino). Pemecahan
inilah yang menyebabkan selsel membusuk yang disebabkan oleh metabolisme
mikroba dan ekstrak kunyit dapat memperlambat metabolisme mikroba.
D. Efektifitas Kunyit Sebagai Pengawet Daging
Kunyit
efektif digunakan untuk mengawetkan daging dari berbagai macam jenis daging,
mulai dari daging ikan, sapi, kambing, kerbau dan sebagainya. Daging merupakan
bahan yang banyak mengandung protein sehingga memungkinkan bagi mikriorganisme
untuk hidup didalamnya. Kunyit merupakan senyawa yang mengandung kurkumin yang
efektif dalam membunuh mikroorganisme, karena kurkumin merupakan senyawa
fenolik yang dapat mengubah permeabilitas membran sitoplasma yang menyebabkan
kebocoran nutrisi dari sel sehingga sel bakteri mati atau terhambatnya
pertumbuhannya.
Penelitian
yang dilakukan oleh Kristiani (2005) membuktikan bahwa daging sapi yang
direndam dengan kunyit selama dua hari dapat menghambat pertumbuhan
mikroorganisme. Waktu perendaman daging juga berpengaruh terhadap aktivitas
bakteri, perendaman dalam waktu 10-30 menit belum menunjukkan efektifitas
kunyit sebagai penghambat pertumbuhan mikroorganisme dalam daging jika yang
digunakan adalah serbuk kunyit yang kering atau ekstrak kunyit yang tidak
segar, akan tetapi jika perendaman daging dilakukan pada ekstrak kunyit yang
masihsegar akan efektif dalam perendaman 30 menit.
Perlakuan
yang diberikan pada konsentrasi kunyit yang terlalu tinggi akan menurunkan
tingkat kesukaan konsumen terhadap produk tersebut. Proses pengawetan suatu
bahan pangan yang diberikan pengawet rempah-rempah, memberikan efek yang baik
untuk kesehatan akan tetapi penggunaan kunyit dalam konsentrasi yang tinggi
akan mempengaruhi rasa dari makanan sehingga menurunkan daya tarik konsumen,
karena kunyit mempunyai rasa dan bau yang khas yaitu getir dan pahit serta
berbau langu. Akan tetapi penggunaan dalam penggawetan tahu dan daging dengan
konsentrasi yang sedang akan menambah mutu gizi dari kedua produk pangan
tersebut, kerena selain awet kandungan dari kunyit juga sangat bermanfaat bagi
tubuh.
DAFTAR
PUSTAKA
Afrianti,
Melda, Bambang Dwiloka, dan Bhakti Etza Setiani. 2013. Jurnal Pangan dan Gizi
Vol 04 No. 07 hal 49-56
Candra,
Budiman. 2005. Pengantar Kesehatan Limgkungan. Yogyakarta: Penerbit buku
kedokteran EGC
Jazuli,
Ahzami Samiun. 2006. Kehidupan Dalam pandangan Al-Qur’an. Jakarta: Gema Insani
Press
Kristiani,
Chichilia. 2005. Efektifitas Antibakteri Ekstrak Kunyit (Curcuma longa
Linn) Terhadap Staphylococus aureus Dalam daging Sapi. Skripsi
Universitas Katolik Soegijapranata Semarang: tidak diterbitkan
Kristianingrum,
Susila. 2006. Pengawet Makanan yang Aman Bagi Kesehatan. Disampaikan pada
kegiatan PPM “pelatihan Teknologi Pengolahan Ubi Jalar Bagi Masyarakat Desa
Purwomartani Sleman, Yogyakarta: tidak diterbitkan
Marks,
B Dawn and Collen M Smith. 1996. Biokimia Kedokteran Dasar Sebuah Pendekatan
Klinis. Yogyakarta: Penerbit buku kedokteran EGC terjemah joko suyona dkk
Mustafa,
Ria Mariana. 2006. Studi Efektifitas Pengawet Bahan Alami Dalam Pengawetan
Tahu. Skripsi IPB: tidak diterbitkan
Perangin.
2013. Diakses pada tanggal 01 Januari 2015 dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/37252/3/Chapter%20II.pdf
Puspitojati,
Endah. 2013. Bahaya Penggunaan Formalin Pada Makanan. Diakses dari http://stppyogyakarta.ac.id/wp-content/uploads/2013/03/mie-formalin.pdf pada tanggal 01
Januari 2015
Said,
Ahmad. 2007. Khasiat dan Manfaat Kunyit. PT Sinar wadja lestari.
Setyowati,
Astuti dan Chatarina Lilis Suryanni. 2013. Peningkatan Kadar Kurkunimoid dan
Aktivitas Antioksidan Minuman Instan Temulawak dan Kunyit. Jurnal Agritech,
Vol. 33, No. 4, hal 363-370
Suparnito,
Cahyo dan Diana Hidayati. Bahan Tambahan Pangan. Yogyakarta: KANISUS
Wijaya,
Guntur Octosa Yudha. 2012. Peluang Bisnis Tahu Kedelai. Diakses dari http://download.portalgaruda.org/article.php?article=91822&val=4998
pada tanggal 01 Januari 2015.
No comments:
Post a Comment