A. Pengertian
Sabun
Sabun adalah bahan yang
digunakan untuk mencuci dan mengemulsi, terdiri dari dua komponen utama yaitu
asam lemak dengan rantai karbon C16 dan sodium atau potasium. Sabun merupakan
pembersih yang dibuat dengan reaksi kimia antara kalium atau natrium dengan
asam lemak dari minyak nabati atau lemak hewani. Sabun yang dibuat dengan NaOH
dikenal dengan sabun keras (hard soap), sedangkan sabun yang dibuat dengan KOH
dikenal dengan sabun lunak (soft soap).
Sabun mandi merupakan
salah satu produk
turunan dari minyak.
Sabun mandi
adalah produk yang dihasilkan dari reaksi antara minyak dan atau
lemak dengan basa KOH atau NaOH. Sabun mandi adalah senyawa natrium atau kalium dengan asam
lemak dari minyak
nabati
dan atau lemak hewani dan
berbentuk padat, lunak atau cair, berbusa, digunakan
sebagai pembersih, dengan menambahkan
zat pewangi, dan bahan
lainnya yang
tidak membahayakan kesehatan (Badan Standarisasi Nasional, 1994).
Alkali
yang digunakan pada penelitian
ini adalah larutan NaOH yang dapat membuat sabun menjadi padat
(Raymmond dkk: 2012)
Dijelaskan dalam sebuh buku Kimia organik yang dikarang oleh
Fesenden bahwa suatu molekul sabun mengandung suatu rantai hidrokarbon panjang
plus ujung ion. Bagian hidrokarbon dari molekul itu bersifat hidrofobik dan
larut dalam zat-zat non polar, sedangkan ujung ion bersifat hidrofilik dan
larut dalam air. Karena adanya rantai hidrokarbon, sebuah molekul sabun secara
keseluruhan tidaklah benar-benar larut dalam air. Namun sabun mudah tersuspensi
dalam air karena membentuk misel (micelles), yakni segerombolan (50-150)
molekul sabun ynag rantai hidrokarbonnya mengelompok dengan ujung-ujungionnya
menghadap ke air.
B. Sabun
Herbal
Sabun herbal terbuat dari bahan-bahan alami yang
lebih ramah bagi kulit. Sabun herbal adalah salah satu jenis sabun yang
menggunakan bahan-bahan alami. Proses pembuatannya pun hanya memakai bahan
kimiawi yang sangat sedikit. Perbandingan bahan dalam sabun herbal produk kami
adalah 80% bahan alami dan 20% bahan kimiawi.
Sebenarnya,
pengertian sabun alami dan herbal tidak benar-benar sama. Sabun alami memiliki
pengertian sabun yang dibuat dari proses saponifikasi (penyabunan) antara
minyak atau lemak dengan senyawa alkali. Minyak yang digunakan dapat berupa
minyak hewani atau juga minyak nabati sedangkan untuk larutan alkali yang
digunakan adalah NaOH / Natrium Hidroksida / Sodium Hydroxide /
Soda Api untuk sabun padat (soap bar) dan KOH / Potassium Hydroxide untuk
sabun cair (liquid soap).
Sabun herbal
sendiri memiliki pengertian sabun yang mengandung bahan-bahan herbal yaitu
bahan yang berasal dari tumbuhan yang dipercaya memiliki khasiat tertentu
sesuai dengan fungsi produk. Sabun herbal tidak harus alami. Sabun dengan bahan
kimia sintetis dengan tambahan bahan-bahan herbal dalam persentase yang cukup
besar dapat juga disebut sabun herbal. Disisi lain, sabun alami tidak harus
berbahan nabati. Sabun alami dapat dibuat dari minyak nabati atau juga lemak
hewan. Begitu juga bahan tambahan sabun alami juga tidak harus bahan nabati,
bisa juga bersifat hewani yang juga dipercaya berkhasiat bagi kulit.
Kemungkinan sabun ditemukan oleh Mesir kuno beberapa ribu tahun
yang lalu. Pembuatan sabun oleh suku bangsa Jerman dilaporkan oleh julius
Caesar. Teknik pembuatan sabun dilupakan orang dalam Zaman Kegelapan (Dark Ages), namun ditemukan kembali selama
Renaissance dan mulai digunakan secara luas pada abad ke-18. Secacra umum
sabun dapat dibuat melalui dua proses yaitu.
1. Saponifikasi
Proses
saponifikasi minyak akan memperoleh produk sampingan yaitu gliserol, proses saponifikasi terjadi karena reaksi antara trigliserida dengan alkali. Reaksi kimia pada proses saponifikasi
adalah sebagai berikut:
Menurut
(La Ode Sumarlin: 2013) reaksi penyabunan atau sering disebut dengan reaksi
saponifikasi adalah reaksi antara larutan basa (alkali), yang lebih sering
digunakan adalah natrium hidroksida atau kalium hidroksida dengan lemak/minyak.
Seperti namanya yaitu penyabunan maka hasil dari reaksi basa dan lemak akan
menghasilkan sabun, ditandai dengan adanya busa yang terbentuk dari reaksi ini.
Bilangan
penyabunan adalah jumlah miligram KOH atau NaOH yang diperlukan untuk menyabun
1 gram lemak. Besar atau kecilnya penyabunan ini tergantung pada panjang
pendeknya rantai karbon asam lemak atau besarnya bilangan penyabunan tergantung
pada bobot molekul lemak tersebut. Makin kecil bobot molekul lemak, makin besar
pula bilangan penyabunannya.
2. Netralisasi
Proses netralisasi
tidak
akan memperoleh gliserol,
berbeda dengan proses saponifikasi yang menghasilkan gliserol, netralisasi terjadi karena reaksi
asam
lemak bebas
dengan alkali.
Reaksi kimia pada proses netralisasi adalah sebagai berikut:
A. Syarat
Mutu Sabun Mandi
Syarat mutu sabun mandi menurut Standar Nasional Indonesia
06-3235-1994 dapat dilihat pada Tabel
|
No
|
Uraian
|
Satuan
|
Tipe I
|
Tipe II
|
Superfat
|
|
1
|
Kadar air
|
%
|
maks. 15
|
maks.15
|
maks.15
|
|
2
|
Jumlah asam lemak
|
%
|
> 70
|
64 – 70
|
> 70
|
|
3
|
Alakali bebas
- Dihitung
sebagai NaOH
- Dihitung
sebagai KOH
|
%
%
|
maks. 0,1
maks. 0,14
|
maks. 0,1
maks. 0,14
|
maks. 0,1
maks. 0,14
|
|
4
|
Asam lemak bebas atau
lemak netral
|
%
|
< 2,5
|
< 2,5
|
2,5 – 7,5
|
|
5
|
Minyak mineral
|
-
|
Negatif
|
negatif
|
Negatif
|
Acuan
SNI 06-3235-1994
1. Kadar
Air
Kadar air merupakan bahan yang menguap pada suhu dan waktu tertentu.
Maksimal kadar air pada sabun adalah 15%, hal ini disebabkan agar sabun yang dihasilkan cukup keras sehingga lebih efisien dalam pemakaian dan sabun tidak mudah larut
dalam air.
Kadar air akan mempengaruhi kekerasan dari sabun.
2. Jumlah
lemak
Jumlah asam lemak merupakan jumlah
total seluruh
asam lemak
pada sabun yang telah atau pun yang belum bereaksi dengan alkali. Sabun yang
berkualitas baik mempunyai kandungan total asam lemak minimal 70%, hal ini
berarti bahan-bahan yang ditambahkan sebagai bahan pengisi dalam pembuatan sabun kurang
dari 30%. Tujuannya untuk meningkatkan efisiensi proses pembersihan
kotoran
berupa minyak atau
lemak
pada
saat sabun digunakan.
Bahan pengisi yang
biasa ditambahkan adalah madu, gliserol, waterglass,
protein susu dan
lain sebagainya.
Tujuan
penambahan
bahan pengisi untuk memberikan
bentuk yang
kompak dan padat, melembabkan, menambahkan zat gizi yang diperlukan oleh kulit.
3. Alkali
bebas
Alkali bebas merupakan alkali dalam sabun yang tidak diikat sebagai
senyawa. Kelebihan alkali bebas
dalam sabun tidak boleh lebih
dari 0,1% untuk sabun Na, dan 0,14% untuk sabun KOH karena alkali mempunyai sifat yang
keras dan menyebabkan iritasi pada kulit. Kelebihan alkali bebas pada sabun
dapat disebabkan
karena konsentrasi alkali yang pekat atau
berlebih pada proses
penyabunan. Sabun yang
mengandung
alkali tinggi biasanya digunakan untuk sabun
cuci.
4. Asam Lemak Bebas
Asam lemak bebas merupakan asam lemak pada sabun yang
tidak terikat sebagai senyawa natrium atau pun senyawa
trigliserida (lemak netral). Tingginya asam lemak
bebas
pada
sabun akan mengurangi daya membersihkan
sabun,
karena asam lemak bebas merupakan komponen yang tidak diinginkan dalam proses
pembersihan. Sabun pada
saat digunakan akan menarik komponen asam
lemak bebas yang
masih terdapat dalam sabun sehingga secara tidak langsung mengurangi kemampuannya
untuk membesihkan minyak dari bahan yang
berminyak.
5. Minyak Mineral
Minyak mineral merupakan
zat
atau bahan
tetap sebagai minyak, namun saat penambahan air akan terjadi emulsi antara air
dan minyak yang ditandai dengan kekeruhan.
Minyak
mineral adalah
minyak hasil penguraian bahan
organik oleh jasad renik yang
terjadi berjuta-juta tahun. Minyak mineral sama dengan minyak bumi beserta turunannya. Contoh minyak mineral adalah: bensin, minyak tanah,
solar,
oli, dan sebagainya.
Kekeruhan pada pengujian minyak mineral dapat disebabkan juga oleh molekul hidrokarbon dalam bahan. (Raymon: 2012)
C. Mengenal
Proses Pembuatan Sabun Herbal Kemangi
Proses pembuatan sabun herbal kemangi sangat mudah, hanya
diperlukan beberapa kali percobaan untuk mendapatkan formula yang pas dan
sesuai dengan syarat mutu sabun. Proses pembuatan sabun herbal kemangi
dilakukan dengan mencampurkan bahan-bahan pembuatan sabun herbal. Pembuatan
sabun herbal kemangi secara sederhana
dapat dilakukan dengan beberapa tahap yaitu:
1.
Menimbang padatan NaOH dengan massa 10 gram atau
kelipatannya
2.
Mengukur volume minyak kelapa sawit 50 ml atau
kelipatannya
3.
Mengukur volume air 20 ml atau kelipatannya
4.
Mengambil ekstrak kemangi dengan cara (blender
daun kemangi dengan sdikit air, lalu saring dengan saringan kain)
5.
Melarutkan padatan NaOH dengan air, dan
mengukur suhunya
6.
Memanaskan minyak kelapa sawit sampai suhunya
sama dengan suhu NaOH
7.
Mencampurkan minyak kelapa sawit dan NaOH, serta
mengaduknya sampai terbentuk trace
8.
Menambahkan ekstrak kemangi dan mengaduknya
kembali
9.
Menyiapkan cetakan dan tunggu sampai sabun
menjadi keras.
Ahmad Idrus dkk dalam Simposium nasional Teknologi Terapan
(SNTT) melakukan percobaan pembuatan sabun herbal kemangi dengan cara
sebagai berikut
1. Melarutkan
NaOH masing-masing 22,5 gram 55,0862 gram (29%); 50,0806 gram (31%); 4,6818
gram (33%); 41,7857 gram (35%) dengan aquades.
2. Memanaskan
minyak kedelai hingga suhunya sama dengan suhu larutan NaOH.
3. Memasukkan
minyak kedelai ke dalam blender, menyalakan blender.
4. Memasukkan
larutan NaOH dengan perlahan.
5. Setelah
selesai dengan waktu yang sudah ditentukan untuk pengadukan dihentikan ketika
telah terbentuk trace.
6. Menambahkan
kemangi sebanyak 7,5 gram ke dalam blender.
7. Selanjutnya
menyalakan blender sebentar hingga kemangi dan trace telah tercampur dengan
rata.
8. Kemudian
menuangkan sabun yang masih dalam bentuk trace ke dalam wadah yang sudah
disediakan dan simpan selama 2 minggu.
Selain cara diatas masih banyak lagi cara pembuatan
sabun herbal, akan tetapi pada dasarnya pembuatan sabun adalah mencapuran NaOH
dan minyak. Sabun herbal juga bisa ditambah dengan bahan-bahan lain seperti
parfum, untuk menghasilkan aroma wangi pada sabun, zat anti jamur untuk
mencegah adanya jamur pada sabun, dan banyak tambahan-tambahan lain yang
digunakan untuk meningkatkan kualitas sabun yang dihasilkan.
No comments:
Post a Comment