Monday, 24 December 2018

pembuatan sabun herbal



A.      Pengertian Sabun

Pengertian sabun ditinjau dari sudut pandang Kimia adalah garam logam alkali (biasanya garam natrium)  dari asam-asam lemak. Menurut (Fessenden: 1982) Sabun mengandung terutama C16 dan C18, namun dapat juga mengandung beberapa karboksilat dengan bobot atom lebih rendah.
 Sabun adalah bahan yang digunakan untuk mencuci dan mengemulsi, terdiri dari dua komponen utama yaitu asam lemak dengan rantai karbon C16 dan sodium atau potasium. Sabun merupakan pembersih yang dibuat dengan reaksi kimia antara kalium atau natrium dengan asam lemak dari minyak nabati atau lemak hewani. Sabun yang dibuat dengan NaOH dikenal dengan sabun keras (hard soap), sedangkan sabun yang dibuat dengan KOH dikenal dengan sabun lunak (soft soap).
Sabun mandi merupakan salah satu produk turunan  dari  minyak.  Sabun  mandi  adalah  produk yang dihasilkan dari reaksi antara minyak dan atau lemak dengan basa KOH atau NaOH. Sabun mandi adalah senyawa natrium atau kalium dengan asam lemak dari minyak nabati dan atau lemak hewani dan berbentuk padat, lunak atau cair, berbusa, digunakan sebagai pembersih, dengan menambahkan zat pewangi,  dan  bahan  lainnya  yang  tidak membahayakan kesehatan (Badan Standarisasi Nasional,  1994).  Alkali  yang  digunakan  pada penelitian ini adalah larutan NaOH yang dapat membuat sabun menjadi padat (Raymmond dkk: 2012)
Dijelaskan dalam sebuh buku Kimia organik yang dikarang oleh Fesenden bahwa suatu molekul sabun mengandung suatu rantai hidrokarbon panjang plus ujung ion. Bagian hidrokarbon dari molekul itu bersifat hidrofobik dan larut dalam zat-zat non polar, sedangkan ujung ion bersifat hidrofilik dan larut dalam air. Karena adanya rantai hidrokarbon, sebuah molekul sabun secara keseluruhan tidaklah benar-benar larut dalam air. Namun sabun mudah tersuspensi dalam air karena membentuk misel (micelles), yakni segerombolan (50-150) molekul sabun ynag rantai hidrokarbonnya mengelompok dengan ujung-ujungionnya menghadap ke air.
B.       Sabun Herbal
Herbal adalah tanaman atau tumbuhan yang mempunyai kegunaan atau nilai lebih dalam pengobatan. Dengan kata lain, semua jenis tanaman yang mengandung bahan atau zat aktif yang berguna untuk pengobatan bisa digolongkan sebagai herbal. Herbal kadang disebut juga sebagai tanaman obat, sehingga dalam perkembangannya dimasukkan sebagai salah satu bentuk pengobatan alternatif.
Sabun herbal terbuat dari bahan-bahan alami yang lebih ramah bagi kulit. Sabun herbal adalah salah satu jenis sabun yang menggunakan bahan-bahan alami. Proses pembuatannya pun hanya memakai bahan kimiawi yang sangat sedikit. Perbandingan bahan dalam sabun herbal produk kami adalah 80% bahan alami dan 20% bahan kimiawi.
Sebenarnya, pengertian sabun alami dan herbal tidak benar-benar sama. Sabun alami memiliki pengertian sabun yang dibuat dari proses saponifikasi (penyabunan) antara minyak atau lemak dengan senyawa alkali. Minyak yang digunakan dapat berupa minyak hewani atau juga minyak nabati sedangkan untuk larutan alkali yang digunakan adalah NaOH / Natrium Hidroksida / Sodium Hydroxide / Soda Api untuk sabun padat (soap bar) dan KOH / Potassium Hydroxide untuk sabun cair (liquid soap).
Sabun herbal sendiri memiliki pengertian sabun yang mengandung bahan-bahan herbal yaitu bahan yang berasal dari tumbuhan yang dipercaya memiliki khasiat tertentu sesuai dengan fungsi produk. Sabun herbal tidak harus alami. Sabun dengan bahan kimia sintetis dengan tambahan bahan-bahan herbal dalam persentase yang cukup besar dapat juga disebut sabun herbal. Disisi lain, sabun alami tidak harus berbahan nabati. Sabun alami dapat dibuat dari minyak nabati atau juga lemak hewan. Begitu juga bahan tambahan sabun alami juga tidak harus bahan nabati, bisa juga bersifat hewani yang juga dipercaya berkhasiat bagi kulit.

Kemungkinan sabun ditemukan oleh Mesir kuno beberapa ribu tahun yang lalu. Pembuatan sabun oleh suku bangsa Jerman dilaporkan oleh julius Caesar. Teknik pembuatan sabun dilupakan orang dalam Zaman Kegelapan  (Dark Ages), namun ditemukan kembali selama Renaissance dan mulai digunakan secara luas pada abad ke-18. Secacra  umum  sabun dapat dibuat melalui dua proses yaitu.
1.      Saponifikasi
Proses saponifikasi minyak akan memperoleh produk sampingan yaitu gliserol, proses saponifikasi terjadi karena reaksi antara trigliserida dengan alkali. Reaksi kimia pada proses saponifikasi adalah sebagai berikut:
 
Menurut (La Ode Sumarlin: 2013) reaksi penyabunan atau sering disebut dengan reaksi saponifikasi adalah reaksi antara larutan basa (alkali), yang lebih sering digunakan adalah natrium hidroksida atau kalium hidroksida dengan lemak/minyak. Seperti namanya yaitu penyabunan maka hasil dari reaksi basa dan lemak akan menghasilkan sabun, ditandai dengan adanya busa yang terbentuk dari reaksi ini.
Bilangan penyabunan adalah jumlah miligram KOH atau NaOH yang diperlukan untuk menyabun 1 gram lemak. Besar atau kecilnya penyabunan ini tergantung pada panjang pendeknya rantai karbon asam lemak atau besarnya bilangan penyabunan tergantung pada bobot molekul lemak tersebut. Makin kecil bobot molekul lemak, makin besar pula bilangan penyabunannya.
2.      Netralisasi
Proses netralisasi tidak akan memperoleh gliserol, berbeda dengan proses saponifikasi yang menghasilkan gliserol, netralisasi terjadi karena reaksi asam lemak bebas dengan alkali. Reaksi kimia pada proses netralisasi adalah sebagai berikut:
A.      Syarat Mutu Sabun Mandi
Syarat mutu sabun mandi menurut Standar Nasional Indonesia 06-3235-1994 dapat dilihat pada Tabel
No
Uraian
Satuan
Tipe I
Tipe II
Superfat
1
Kadar air
%
maks. 15
maks.15
maks.15
2
Jumlah asam lemak
%
> 70
64 – 70
> 70
3
Alakali bebas
-  Dihitung sebagai NaOH
-  Dihitung sebagai KOH


%


%


maks. 0,1


maks. 0,14


maks. 0,1


maks. 0,14


maks. 0,1


maks. 0,14

4
Asam lemak bebas atau lemak netral
%
< 2,5
< 2,5
2,5 – 7,5
5
Minyak mineral
-
Negatif
negatif
Negatif
Acuan SNI 06-3235-1994
1.    Kadar Air
Kadar air merupakan bahan yang menguap pada suhu dan waktu tertentu. Maksimal kadar air pada sabun adalah 15%, hal ini disebabkan agar sabun yang dihasilkan cukup keras sehingga lebih efisien dalam pemakaian dan sabun tidak mudah  larut  dalam  air.  Kadaaiakan  mempengaruhi  kekerasan  dari  sabun.
2.    Jumlah lemak
Jumlah asam lemak merupakan jumlah total seluruh asam lemak pada sabun yang telah atau pun yang belum bereaksi dengan alkali. Sabun yang berkualitas baik mempunyai kandungan total asam lemak minimal 70%, hal ini berarti bahan-bahan yang ditambahkan sebagai bahan pengisi dalam pembuatan sabun kurang dari 30%. Tujuannya untuk meningkatkan efisiensi proses pembersihan  kotoran  berupa  minyak  atau  lemak  pada  saat  sabun  digunakan. Bahan pengisi yang biasa ditambahkan adalah madu, gliserol, waterglass, protein susu dan lain sebagainya. Tujuan penambahan bahan pengisi untuk memberikan bentuk yang kompak dan padat, melembabkan, menambahkan zat gizi yang diperlukan oleh kulit.
3.    Alkali bebas
Alkali bebas merupakaalkali dalam sabun  yang tidak diikat sebagai senyawa. Kelebihan alkali bebas dalam sabun tidak boleh lebih dari 0,1% untuk sabun Na, dan 0,14% untuk sabun KOH karena alkali mempunyai sifat yang keras dan menyebabkan iritasi pada kulit. Kelebihan alkali bebas pada sabun dapat disebabkan karena konsentrasi alkali yang pekat atau berlebih pada proses penyabunan. Sabun yang mengandung alkali tinggi biasanya digunakan untuk sabun cuci.
4.   Asam Lemak Bebas
Asam lemak bebas merupakan asam lemak pada sabun yang tidak terikat sebagai senyawa natrium atau pun senyawa trigliserida (lemak netral). Tingginya asam  lemak  bebas  pada  sabun  akan  mengurangi  daymembersihkan  sabun, karena asam lemak bebas merupakan komponen yang tidak diinginkan dalam proses pembersihan. Sabun pada saat digunakan akan menarik komponen asam lemak bebas yang masih terdapat dalam sabun sehingga secara tidak langsung mengurangi kemampuannya untuk membesihkan minyak dari bahan yang berminyak.
5.   Minyak Mineral
Minyak mineral merupakan zat atau bahan tetap sebagai minyak, namun saat penambahan air akan terjadi emulsi antara air dan minyak yang ditandai dengakekeruhan.  Minyak  mineral  adalah  minyahasil  penguraiabahan organik oleh jasad renik yang terjadi berjuta-juta tahun. Minyak mineral sama dengan minyak bumi beserta turunannya. Contoh minyak mineral adalah: bensin, minyak tanah, solar, oli, dan sebagainya. Kekeruhan pada pengujian minyak mineral dapat disebabkan juga oleh molekul hidrokarbon dalam bahan. (Raymon: 2012)

C. Mengenal Proses Pembuatan Sabun Herbal Kemangi
Proses pembuatan sabun herbal kemangi sangat mudah, hanya diperlukan beberapa kali percobaan untuk mendapatkan formula yang pas dan sesuai dengan syarat mutu sabun. Proses pembuatan sabun herbal kemangi dilakukan dengan mencampurkan bahan-bahan pembuatan sabun herbal. Pembuatan sabun herbal kemangi  secara sederhana dapat dilakukan dengan beberapa tahap yaitu:
1.        Menimbang padatan NaOH dengan massa 10 gram atau kelipatannya
2.        Mengukur volume minyak kelapa sawit 50 ml atau kelipatannya
3.        Mengukur volume air 20 ml atau kelipatannya
4.        Mengambil ekstrak kemangi dengan cara (blender daun kemangi dengan sdikit air, lalu saring dengan saringan kain)
5.         Melarutkan padatan NaOH dengan air, dan mengukur suhunya
6.        Memanaskan minyak kelapa sawit sampai suhunya sama dengan suhu NaOH
7.        Mencampurkan minyak kelapa sawit dan NaOH, serta mengaduknya sampai terbentuk trace
8.        Menambahkan ekstrak kemangi dan mengaduknya kembali
9.        Menyiapkan cetakan dan tunggu sampai sabun menjadi keras.                                                                    
Ahmad Idrus dkk dalam Simposium nasional Teknologi Terapan (SNTT) melakukan percobaan pembuatan sabun herbal kemangi dengan cara sebagai berikut
1.    Melarutkan NaOH masing-masing 22,5 gram 55,0862 gram (29%); 50,0806 gram (31%); 4,6818 gram (33%); 41,7857 gram (35%) dengan aquades.
2.    Memanaskan minyak kedelai hingga suhunya sama dengan suhu larutan NaOH.
3.    Memasukkan minyak kedelai ke dalam blender, menyalakan blender.
4.    Memasukkan larutan NaOH dengan perlahan.
5.    Setelah selesai dengan waktu yang sudah ditentukan untuk pengadukan dihentikan ketika telah terbentuk trace.
6.    Menambahkan kemangi sebanyak 7,5 gram ke dalam blender.
7.    Selanjutnya menyalakan blender sebentar hingga kemangi dan trace telah tercampur dengan rata.
8.    Kemudian menuangkan sabun yang masih dalam bentuk trace ke dalam wadah yang sudah disediakan dan simpan selama 2 minggu.     
Selain cara diatas masih banyak lagi cara pembuatan sabun herbal, akan tetapi pada dasarnya pembuatan sabun adalah mencapuran NaOH dan minyak. Sabun herbal juga bisa ditambah dengan bahan-bahan lain seperti parfum, untuk menghasilkan aroma wangi pada sabun, zat anti jamur untuk mencegah adanya jamur pada sabun, dan banyak tambahan-tambahan lain yang digunakan untuk meningkatkan kualitas sabun yang dihasilkan.      

No comments:

Post a Comment